.comment-link {margin-left:.6em;}

Sehat & Segar Dari Alam

Tuesday, May 01, 2007

BIJAK MEMILIH JENIS OBAT


Ingat kisah Ande-ande Lumut? Putra raja yang tampan itu meminang Kleting Kuning yang buruk rupa dan menolak 6 gadis lain nan cantik. Dalam dunia herbal, pilihan bentuk sediaan juga banyak: irisan kering, bubuk kering, tablet, kapsul keras, softcapsule, dan teh. Mana yang harus dipilih?

Untuk klaim penyakit yang sama pun, tersedia herbal dalam berbagai bentuk sediaan. Sarang semut, misalnya, tersedia dalam bentuk bubuk kering, kapsul bubuk kering, dan kapsul ekstrak air. Itu membuat konsumen bingung ketika hendak memilih bentuk sediaan yang paling cocok untuk penyakitnya. Sediaan herbal yang dikemas modern lebih menarik konsumen karena praktis dan lebih higienis. Namun, konsumen mesti teliti sebelum membeli. Apakah sediaan modern itu mengikuti cara tradisional dalam penyiapannya?

Cara penyiapan yang berbeda dengan cara tradisional, menghasilkan kualitas produk berbeda dan belum teruji khasiatnya. Kecuali untuk kategori herbal terstandar dan fitofarmaka. Contoh jamu dari hutan tropis Amazon bernama muira puama Ptychopetalum olacoides. Di Amerika Serikat muira puama sangat populer sebagai afrodisiak untuk kaum Adam. Secara tradisional tanaman itu lama digunakan oleh penduduk asli Brazil untuk meningkatkan fungsi seksual pria.

Senyawa-senyawa kimia yang bertanggung jawab terhadap fungsi afrodisiak itu larut dalam alkohol. Oleh karena itu produk yang efektif berupa kapsul berisi ekstrak alkohol, bukan ekstrak air atau bubuk. Padahal di pasaran tersedia berbagai bentuk sediaan muira puama seperti tablet, kapsul berisi bubuk, kapsul berisi ekstrak air, dan kapsul berisi ekstrak alkohol. Salah pilih berarti kekecewaan konsumen. Celakanya mereka cenderung menyimpulkan, muira puama tidak efektif sebagai afrodisiak.
Label

Secara tradisional masyarakat mengolah sarang semut dengan merebus dalam air mendidih. Setelah dingin, mereka menyaring sebelum mengkonsumsinya. Bahan baku sarang semut berupa potongan-potongan segar atau kering, bisa pula bubuk kering. Jadi senyawa-senyawa kimia dalam sarang semut yang memiliki aktivitas farmakologi bisa dipastikan adalah senyawa-senyawa yang larut dalam air.

Oleh karena itu, bila membuat sediaan lain seperti kapsul, harus dari ekstrak air, bukan ekstrak alkohol atau bubuk kering (tanpa ekstraksi). Ekstrak air dapat dibuat dalam bentuk ekstrak kering atau campuran ekstrak kental dengan bahan pengering, keduanya diizinkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Saat ini di pasaran terdapat kapsul bubuk kering sarang semut tanpa melalui proses ekstraksi. Selain melanggar aturan BPOM, juga membahayakan konsumen lantaran senyawa aktif dalam kapsul tak serta-merta terlepas di lambung.

Untuk mengenalinya, lihat izin BPOM di label kemasan. Kalau tanpa nomor registrasi (POM TR) atau hanya memiliki izin P-IRT (industri rumah tangga), perlu diragukan khasiat dan keamanannya. Secara sederhana isi kapsul juga bisa diuji kelarutannya dalam air suhu ruang. Bila sebagian isi kapsul segera larut dalam air, itu indikasi ekstrak air. Tentu saja ada bagian yang tidak larut yang merupakan bahan pengisi kapsul seperti amilum atau sejenisnya. Isi kapsul yang berupa bubuk tanpa ekstraksi akan sangat sulit larut dalam air dingin.
Bubuk vs kapsul

Kapsul sarang semut mengandung senyawa aktif yang relatif sama dengan dekoktum (air rebusan) bubuk sarang semut. Artinya pada masing-masing dosis anjuran, keduanya memiliki keamanan dan khasiat yang relatif sama. Perbedaannya? Dari segi harga, bubuk lebih ekonomis karena diperlukan investasi lebih besar untuk memproduksi kapsul. Dari sisi penyerapan, bubuk lebih cepat karena perlu waktu ekstra untuk menghancurkan selongsong kapsul di dalam sistem pencernaan.

Sebaliknya, karena terlindungi oleh selongsong kapsul, beberapa senyawa aktif yang labil (mudah terurai) dapat terlindungi dari degradasi di dalam lambung. Kapsul lebih banyak dipilih oleh mereka yang tidak menyukai rasa dan aroma jamu-identik dengan pahit, amis, dan apak. Mereka yang sibuk, mobilitas tinggi, dan ingin meningkatkan vitalitas serta menjaga kebugaran juga memilih kapsul. Begitu pun konsumen yang pencernaan bermasalah, gangguan fungsi hati, dan ginjal.

Segelas dekoktum sarang semut atau 200 ml memiliki kandungan ekstrak air setara 2 kapsul ekstrak air sarang semut (2 x 500 mg). Mereka yang memiliki gangguan fungsi hati dan ginjal, tentu lebih baik mengkonsumsi kapsul ketimbang bubuk sehingga kerja hati dan ginjal tidak berat. Pilihan kapsul ketimbang bubuk sering pula karena alasan ketepatan dosis. Dosis secara tepat terukur, misalnya bila minum 2 kapsul masing-masing 500 mg secara pasti kita mendapatkan khasiat yang setara dengan 1.000 mg ekstrak.

Bandingkan dengan segelas dekoktum bubuk yang takarannya tidak akurat (hanya dengan sendok makan). Selain itu, perbandingan bubuk dan air serta lama perebusan juga hanya kira-kira. Akibatnya kandungan senyawa aktif dalam ekstrak air, juga bisa berbeda-beda. Kapsul memiliki masa simpan relatif lama, minimal 3 tahun, sulit dipalsukan karena dalam pembuatannya diperlukan peralatan dan modal besar. Kelebihan kapsul lain adalah lebih higienis karena menggunakan peralatan modern dan lebih murni lantaran dalam ekstrak tidak terdapat bahan-bahan yang tidak larut dalam air, kecuali bahan pengisi yang sengaja ditambahkan.

Bubuk sarang semut memiliki keunggulan lain yang tidak dipunyai oleh kapsul: sebagai minuman kesehatan yang menyegarkan. Tentu setelah ditambahkan pemanis dan bahan lain untuk meningkatkan vitalitas dan menjaga kebugaran. Bagi kalangan tertentu seperti kaum lanjut usia, minum jamu identik rebusan simplisia yang pahit. Mereka menganggap minum kapsul kurang mantap dan 'menyalahi' ritual tradisional. Sugesti seperti itu jamak kita temukan di masyarakat Indonesia. Akibatnya bila mereka dipaksa minum kapsul, kondisi kesehatan tak membaik. Jadi jangan dipaksa mereka untuk menjadi lebih modern dengan minum kapsul. Percaya atau tidak, sugesti memiliki peran penting dalam kesembuhan suatu penyakit seseorang.

Untuk penyakit-penyakit tertentu, konsumen sebaiknya menggunakan kedua sediaan bubuk dan kapsul secara bersamaan. Misalnya untuk pengobatan rematik, kapsul diminum untuk meredakan rasa nyeri dan bubuk untuk mengompres bagian luar yang bengkak, meredakan nyeri, dan pembengkakan. Untuk pengobatan tumor atau kanker dengan benjolan di luar, gunakan kapsul untuk pengobatan dari dalam. Sementara bubuk untuk kompres (meredakan rasa nyeri dan pengobatan dari luar).
(Dr Ir M. Ahkam Subroto, M.App. Sc, Peneliti Utama, LIPI Cibinong Science Center)
note :

Psssttt....please leave me a name if U wanna comment on my post, OK ? I don't receive anonimous comment...

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

Image hosted by Photobucket.com